Friday, October 30, 2015

Napak Tilas ke Klinik Kedokteran Keluarga

Sebenarnya judul di atas itu baru terbesit ketika tiba di tempat. Awal mula kunjungan, team simpus Jojok ingin tahu mengenai aplikasi pemakaian pilot program ICD-ICPC yang baru pertama kali aplikasi di Indonesia. Kita berangkat dari jogja hari Rabu sore. Team simpus yang berangkat terdiri dari Mas Jojok, Pak Albert , Mas Uun dan Mas wahyu. Perjalanan kita singgah untuk bermalam di Tasikmalaya. Tiba di Tasikmalaya sekitar pukul 02.00 dini hari. Kita istirahat sebentar di hotel untuk meluruskan badan, setelah beberapa jam badan kita tertekuk di kendaraan dalam perjalanan. Pagi hari kita berangkat dari Tasik sekitar pukul 08.30, kita dari Tasikmalaya dapat teman baru yaitu mbak Lena yang kebetulan materi tesisnya meneliti tentang program ICD-ICPD. Jadilah kita tambah personil menjadi orang dengan kepentingan yang sama menuju klinik tersebut. Perjalananpun dilanjutkan dari Tasikmalaya menuju tujuan. Tetapi sebelum masuk daerah Cinunuk kita menunggu temannya mbak Lena, yang kata pak Albert dinyatakan sebagai “penumpang gelap”. Temannya wanitanya mbak lena ini, diminta mbak lena untuk menemani biar tidak perempuan sendiri selama perjalanan.

Saya mendapat info klinik tersebut dari dokter,ketika saya berada di salah satu rumah sakit di jakarta. Hanya dengan berbekal alamat adan nomor telephone dr Susi (pemilik klinik tersebut) maka kita berpetualang mencari temapat keberadaan klinik tersebut. Nama klinik tersebut adalah Klinik Mitra Sehati . Dengan telephone sepanjang perjalanan, tanya-tanya kepada orang, dan Alat GPS (tenyata alat GPS pun tidak 100% valid untuk menemukan suatau tempat). Setelah nyasar ke komplek perumahan lain, akhirnya kita sampai di tempat tujuan yaitu Klinik Mitra Sehati komplek Griya Mitra Blok B2 No 17-19, Cinunuk, Jawa barat.

Ketika tiba pertama kali ke klinik, seperti pada umumnya klinik lain. Klinik ini terdiri dari ruang tunggu yang merangkap ruang pendaftaran, Ruang periksa dokter umum, Ruang Periksa dokter Gigi, Ruang Periksa bidan, Ruang menerima tamu. Kebetulan pada saat kita datang pemilik klinik (dokter Susi) sedang acara bakti sosial, maka ketika kita datang diterima oleh dokter jaga pada saat itu. Sambil menunggu dokter Susi kita dijelaskan mengenai proses awal pendafaran pasien dan aplikasi ICD-ICPC.
Setelah menjelang jam 02.00 dokter Susi pun datang kita banyak berbicang-bincang dan bertukar pikiran mengenai klinik ini.

Ada beberapa hal unik yang diterapkan dalam klinik ini
 
Pertama :

Klinik Mitra Sehati merupakan salah satu klinik percontohan di Jawa barat. Dengan menjadi klinik percontohan maka sering sekali ada kunjungan dinas ke klinik ini. Tidak hanya studi banding dari dinkes prov Jabar, UI, Unpad, tapi juga yayasan non profit yang bergerak di bidang kesehatan. Jadi tidak heran klinik ini sering sekali mendapat kunjungan studi banding, pilot project dari asuransi kesehatan, dan tentu saja praktek kedokteran keluarga bagi para koass di jawa-barat. Bahkan menurut dokter Susi pada hari kemarin ada 2 kunjungan studi banding dari instansi yang berbeda.

Kedua :

Sistem pengobatan yang dilaksanankan di klinik ini. Sistem pengobatan klinik ini lebih menerapkan “follow up setelah curative”. Saya akan mennjelaskan sedikit maksud diatas. Ketika ada pasien yang mengeluh datang ke klinik misalnya hanya sakit flu, pilek dan tidak ‘terlalu” parah maka hanya akan dilakukan observasi dalam beberapa hari, misalnya 2 hari akan dilakukan observasi. Pasien akan disuruh pulang dan hanya dibekali vitamin dan saran (istirahat cukup, konsumsi buah dan makanan yang sehat). Selama 2 hari itu pasien akan dipantau lewat sms oleh dokter mengenai perkembangan kesehatannya. Jadi di sini meminimalkan penggunaan antibiotik. Kalo memang tidak perlu maka tidak usah diberikan antibiotik karena angka resistensi antibiotik akan meningkat, mengingat kondisi tubuh orang Indonesia tidak semua fit dan kepatuhan untuk mengahabiskan dosis yang ditentukan sangat rendah. Jadi ingat cerita pak Albert yang istrinya merupakan dokter gigi, ada beberapa pasien beliau yang usianya masih anak-anak sudah resisten terhadap antibiotik tertentu. Jadi kita tidak bisa membayangkan kalo sakit maka antibiotik yang digunakan sudah masik level sedang. Jadi tidak heran ketika sakit sampai masuk ICU penggunaan antibiotik bukan lagi antibiotik yang “ecek-ecek”. Ada antibiotik yang digunakan di ICU,dengan 2x pemeberian harganya bisa mencapai 1,5uta/ hari. Mungkin dari “strategi” seperti yang dilakukan klinik ini bisa mengendalikan dan meminimalkan konsumsi antibiotik yang cukup besar di Indonesia.

Selain itu klinik ini juga memiliki kerjasama dengan salah satu rumah sakit di jawa barat (ini bukan kerjasama profit, karena klinik ini tidak mendapatkan persenan ketika merujuk pasien. Tujuan kerjasama ini hanya untuk memodahkan akses mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat dan akurat serta memudahkan komunikasi antar tenaga medis. Maksudnya memudahkan komunikasi disini, contohnya ketika pasien rujukan mendapat penanganan oleh dokter spesialis maka dokter di klinik ini akan menghubungi dokter spesialis tersebut, selain menanyakan kondisi kesehatan pasien juga berdiskusi untuk tindakan follow up ketika pasien dirumah. Jadi ketika pasien ingin cek kesehatan di klinik Mitra Sehati maka dokter di klinik sudah mengetahui kondisi sebelumnya.

Ketiga :

Klinik Mitra Sehati juga terlibat dalam promosi kesehatan. Selain mengadakan pengobatan, klinik ini juga berperan aktif dalam kegiatan posyandu dan UKS di tiap sekolah. Klinik ini juga otomatis mengadakan kerjasama denganpuskesmas terkait untuk berperan dalam kegiatan promotif dan preventive di bidang kesehatan masyarakat. Selain itu pasien yang datang ke klinik juga diberikan pendidikan kesehatan yang memadai dengan fasilitas yang ada. Dalam menjelaskan suatu penyakit tidak hanya menggunakan pamflet atau brosur tetapi juga akan diajak searching bareng lewat internat. Disini kebetulan terpasang internet berlangganan. Sebagai contoh (menurut penjelasan dokter jaga) : Ada orang tua yang mebawa anaknya dengan kasus susah menelan, panas dsb. Dan ternyata setelah didiagnosa terkena penyakit tonsilitis (bahasa awamnya amandel). Maka orang tua akan diajak berdiskusi mengenai penyakit ini. Kalu perlu dicarikan di Internet mengenai anatomi-fisiologi (struktur bentuk dan fungsi) dari tonsil /amandel tersebut. Dijelaskan sampai paham maka keluarga akan mengerti dengan sendirinya kapan anaknya perlu dioperasi, misalnya ketika menelan sudah susah, tidurnya mengorok (yap...silahkan yang merasa tidurnya mengorok tidak ada salahny di cek tonsilnya). Ketika sudah mengalami kondisi seperi itu berarti pembesaran tonsilnya sudah mengganggu sistem pencernaan dan pernafasan.  Begitulah salah satu contoh mengenai pendidikan kesehatan yang dilakukan oleh dokter di klinik ini.

Keempat:

Saya jujur binggung untuk membuat sub judul. Jadi begini saja ya saya terangkan detailnya. Klinik Mitra sehat salah satu klinik yang bekerja sama dengan ASKES kalau sekarang BPJS sebagai dokter keluarga yang bisa merujuk secara “sah” ke rumah sakit rujukan. Setahu saya untuk mendapat predikat sebagai dokter keluarga yang diakui pemerintah, harus melalui kompetensi tertentu dan sertifikat dokter praktik keluarga sejumlah 250 angka kredit, oleh dinas kesehatan (saya melihatnya di sertifikat yang terpampang di ruang praktek dokter umum).selain itu dokter jaga (selain dokter susi) merupakan dokter PTT. Kalau tidak memiiki kualitas dan kredibilitas yang bagus terhadap pelayanan kesehatan, dinas kesehatan tidak akan mempercayakan salah satu dokter PTT nya untuk ditempatkan penuh jaga di klinik ini. Karena banyak puskesmas dan tempat-tempat terpencil lainnya yang lebih membutuhkan dokter PTT. Klinik ini juga bisa meminta bidan PTT untuk ditempatkan disini, tapi saya kurang tahu apakah bidan yang sekarang merupakan bidan PTT atau tidak. Beliau tidak menjelaskan dan sayapun lupa menanyakan.

Begitulah sekelumit kisah perjalanan mencari ilmu di klinik Mitra Sejati. Saya tidak bermaksud untuk menggunggulkan klinik ini, tapi saya berharap kita dapat belajar dan ambil sisi positifnya. Saya tidak menutup mata untuk diterapkan di puskesmas sangatlah sulit dengan jumlah pasien serta cakupan demografis yang berbeda-beda dan tidak semua akses lancar menuju wilayah tersebut. Sangat kecil sekali memantau dan mem-follow up pasien ketika pulang. Malah saya jadi curiga ada udang dibalik batu, ketiga petugas (single pula) sangat intensive sekali memonitor kesehatan pasiennya yang kenetulan single pula. Kemungkinan itu ada intervensi hati untuk mencuri hati (gak nyambung ya??). Namun yang saya ingat sekali pernyataan dokter disini, semakin sedikit tingkat kunjungan pasien ke klinik kemungkinan besar jumlah insiden kesakitan di wilayah ini semakin menurun. Dengan kata lain jumlah tingkat kesehatan warga/ pasien semakin meningkat. Kadang saya miris sekali jika dibandingkan dengan laporan beberapa fakta dilapangan. Di beberapa puskesmas malah ditarget jumlah kunjungan pasien per tahun. Heran !!! bukankah semakin jauh dari target kunjungan, kemunginan besar warganya sehat. Kalau dinalar berarti pemerintah untuk mensubsidi biaya pengobatan semakin berkurang. Jadi alokasi dana untuk jamkesda-jamkesmas-gakinda dan subsidi kesehatan yang lain menjadi berkurang. Dan sis dana ini bisa digunakan untuk program kesehatan yang lain. Ko ini malah sebaliknya, jumlah pasien ditarget yang katanya sebagai pemasukan APBD. Mungkin pihak atas sudah lebih tahu untk penerapan kebijakan dalam menetapkan jumlah kunjungan.

Semoga para petugas kesehatan dan team simpus masih tetap semangat untuk terus berkarya demi masa depan anak cucu kita yang lebih baik. Doakan semoga team simpus bisa Go International (seperti artis aja) jadi ada oleh-oleh dari luar negeri sana untuk dibagikan kepada pengguna simpus. Dan satu lagi kata Pak Albert Pratama dengan go international, team simpus punya alasan untuk belajar bahasa inggris.Tapi go international bukan tujuan utama team simpus (itu hanya candaan di sela perjalanan), kami sudah cukup bebahagia pengguna simpus mau entry data secara tertib dan lancar. Kata mas jojok sih mari kita fastbikhul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) dengan apa yang kita punya, dengan apa yang kita bisa, entah dengan waktu, tenaga, ilmu maupun harta. Tenang saja Tuhan memiliki cara tersendiri yang sangat adil, untuk memperhitungkan setiap peluh dan air mata yang kita keluarkan untuk kebaikan. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan. Salam semangat dan hangat dari team simpus

Tuesday, October 27, 2015

Akan Datang Kengerian

Kemarau yang panjang ini masih akan berlanjut, kegersangan yang membuat tanam-tanaman tak bisa tumbuh dengan sempurna, masih akan terjadi. Hutan-hutan yang menghijau akan enggan menahan air untuk kita. Sementara gempa mungkin akan mengguncang kita, hingga kita lari ketakutan. Tak ada tempat untuk berlindung, sedangkan doa orang-orang shalih tak lagi dikabulkan oleh Allah Ta’ala.

Apa sebabnya? Bukankah Allah Ta’ala perintahkan kita untuk berdo’a dan Ia berjanji akan mengabulkan setiap permintaan kita?

Ya…, Allah Maha Mendengar. Ia kabulkan setiap permintaan selagi tak ada perkara yang menghalangi. Ada beberapa sebab yang menjadikan Allah Ta’ala mengizinkan sebuah negeri hancur, dan sebuah kaum ditimpa kesengsaraan yang berkepanjangan. Mereka hidup di antara musibah demi musibah. Mereka bernafas di antara bencana demi bencana. Sesudah satu kengerian berlalu, datang lagi keguncangan yang lebih mengerikan.

Boleh jadi kengerian itu datang dari tindakan kita yang salah perhitungan. Boleh jadi ketakutan itu mencekam setiap hati karena ganasnya manusia. Atau boleh jadi, kita lari dari satu bencana menuju bencana berikutnya yang lebih besar, sementara langit tak lagi menurunkan hujan. Kalau saja Allah Ta’ala tidak kasihan kepada binatang-binatang yang kehausan, tentu bumi akan terbakar dan sumur-sumur akan mengering seluruhnya.

Teringatlah saya kepada hadis riwayat Ibnu Abdil Barr.

Allah mengutus dua malaikat untuk membinasakan sebuah desa dan semua isinya. Dua malaikat tersebut mendapatkan seorang yang sedang shalat di sebuah masjid. Dua malaikat itu berkata, “Wahai Tuhanku, di desa ini ada seorang hamba-Mu yang sedang shalat.”

Allah berkata, “Hancurkan desa tersebut dan hancurkan ia bersama-sama karena wajahnya tidak merah, marah karena-Ku.” (HR. Ibnu AbdulBarr).

Kapankah doa orang shalih tak sanggup menghindarkan sebuah negeri dari bencana yang menakutkan? Ummu Salamah bertutur:

Aku mendengar Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kemaksiatan merebak di antara umatku, maka Allah akan menimpakan azab yang mengenai siapa saja.”

Shahabat bertanya, “Wahai Rasul Allah, bukankah di antara mereka ada orang yang shalih?”

Beliau menjawab, “Betul.”

Shahabat berkata, “Apa yang ditimpakan kepada mereka?”

Beliau menjawab, “Mereka juga merasakan apa yang dirasakan oleh orang umumnya. Mereka mendapatkan pengampunan dan ridha Allah.”(HR. Ahmad).

Hari ini, marilah kita berhenti sejenak untuk melihat diri kita sendiri. Ketika kemaksiatan telah dianggap kesenian, apakah yang sudah kita lakukan? Ketika memperlihatkan aurat telah dianggap sebagai hak dan kemerdekaan, apakah yang sudah kita lakukan? Ketika TV berlomba-lomba menayangkan pantat dan pusar sebagai tuntutan pasar, apakah yang sudah kita lakukan? Kalau kita hanya mengucap istighfar di bibir sembari tetap menikmati dan tertawa, maka bersiaplah menyambut ketakutan demi ketakutan di depan kita. Bersiaplah melihat sungai-sungai besar mengering, mata air berhenti mengalir, dan tanah yang kita pijak pecah membentuk retakan-retakan. Bersiaplah menghadapi paceklik panjang, ketika tanah-tanah subur tak lagi menumbuhkan tanaman. Sedangkan pohon-pohon yang biasanya sepanjang tahun bisa kita petik buahnya, akan berhenti berbunga. Tak berbuah kecuali sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali.

Di saat itu, kemiskinan merata di seluruh negeri, kecuali pada sebagian kecil orang saja. Padahal, barang-barang yang membuat hati sangat mengingini, sangat bertebaran. Airmata tumpah di mana-mana. Sementara para pemimpin hilang kasih-sayangnya. Tak ada yang mereka pikirkan kecuali bagaimana menambah kekayaan. Sedangkan bergantinya pemimpin, sesungguhnya hanyalah pergantian kekuasaan yang menindas.

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umat ini akan selalu di tangan dan pertolongan Allah selagi para ulamanya tidak diperkaya oleh para pemimpinnya dan selagi orang-orang yang baik tidak menganggap baik orang-orang yang fajir (jahat), dan selagi orang-orang jahat tidak menghinakan orang-orang yang baik. Bila mereka melakukan semua itu, maka Allah akan mengangkat Tangan-Nya dari mereka dan orang-orang yang kejam akan menguasai dan menindas mereka. Kemudian Allah menurunkan paceklik dan kemiskinan.” (Marasil Hasan Bashri)

Oleh : Muhammad Fauzil Adhim

#dari group JKD (Jalinan Keluarga Dakwah)

Sunday, October 25, 2015

Mencintai Penanda Dosa

“Ah, surga masih jauh.”
Kisahnya dimulai dengan cerita indah disemester akhir kuliah. Dia muslimah yang taat, aktivis dakwah yang tanggunh, akhwat teladan dikampus dan penuh prestasi yang menyemangati rekan-rekannya. Kesyukuran makun lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia dinafasnya.
Ikhwan itu sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin menjadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari tokoh keluarga terpandang  dan kaya-raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai “pembesar” dikalangan para aktivis dakwah, uasaha yang dirintis dari awal sejak kuliah telah mengentas banyak kawan , sungguh membanggakan. Awal-awal si muslimah yang berasal dari keluarga biasa, seadanya dan bersahaja itu tidak percaya diri. Tetapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.
Hari akad walimah itu tinggal tujuh hari menjelang ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang kerumah dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka syurgakan bersama. Awalnya, ibunda silelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syariat tetap terjaga. “afwan uhkti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU karena serangan jantung.” Ujar sang ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “afwan juga, adakah beberapa akhwat teman anti yang bisa menjadi pendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan.
“sayangnya tidak ada. Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan. Bisakah ditunda?”.
“masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tidak ada waktu lagi. Baagaimana?
Akhirnya dengan memaksa dan membujuk salah seorang kawan kontrakan sang ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi  ditengah jalan sang teman ditelpon rekan untuk suatu keperluan yang katanya gawat darurat. “saya menyesal membiarkannya turun ditengah perjalanan,” kata muslimah itu dengan sedikit terisak.“meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia didepan dan saya dibelakang, saya insyaf, itulah awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan”.
Ringkas cerita mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak syurga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tidak besar. Tetapi asri dan nyaman. Sang muslimah pamit kekamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaitan bekerja dengan lihai dan menakjubkan. “Dirumah yang seharusnya kami bangun syurga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu.
“kisahnya tak berhenti sampai disitu” lanjutnya setelah agak tenang dari isak tangis. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak yang menyiksa. Kami marah,kami kalut, kami sedih, merasa kotor, merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan kami. Kami merasa hancur.
Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu ditikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.
“Setelah hampir  empat bulan koma,” sambungnya, “akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu diperberat oleh kabar yang awalnya saya binggung harus mengucap apa. Saya hamil.Saya mengandung. Perzinahan terdosa itu membuahkan “karunia”. “ynag lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah, ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal ditempat kecelakaan itu.
“doakan saya kuat ustadz, ujarnya. Ketika keluarga almarhum suami saya mencampakkannya begitu rupa. Karena keliuarga suami saya mengatakan “ bagaimana bisa kami percaya, bahwa itu cucu kami, bukan hasil ketidaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang  meninggal karena frustasi”.
“doakan saya ustzadz, semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekersan hati yang tidak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati”

Sekelumit kisah diatas disadur dari kisah nyata yang ditulis oleh seorang ustadz Salim A Fillah dari kota pelajar, dan sayapun pernah mendengar kisah ini diceritakan kembali di radio MQ FM.
Setelah menuliskan kisah ini, saya hanya bisa menghela nafas panjang. Terbayang dibenak saya, hal yang sama ketika saya merawat soranga pasien yang masih muda, belum berusia 17 tahun yang mengalami depresi dan “baby blues”. Suatu syndrom psikologi yang menyebabkan sesorang frustasi ketika melahirkan, bahkan ketika melihat bayinya yang baru dilahirkan pun dia merasa jijik, marah bahkan ketakutan. Biasanya pada kondisi ini dihadapkan pada “unwanted pregnancy” atau kehamilan yang tidak diinginkan. Bisa saja kehamilan itu karena belum siap mental, tidak ada dukungan keluarga atapun kehamilan diluar nikah.
Tidak sedikit juga yang sebelumnya mencoba menggugurkan, namun malah mengancam jiwanya sendiri. Apakah itu mengatasi masalahanya?? Tidak, bahkan hanya menambah masalah bagi orang disekelilingnya.
Tapi tidak semua orang bisa berdamai dengan masa lalunya dan mau bertanggung jawab dengan apa yang telah diperbuatnya. Setiap diri punya kesempatan untuk memperbaiki diri.  Salah satunya dengan bertaubat dan mencintai sang penanda dosa itu. Bukan untuk dibunuh atau dihilangkan jejaknya.
Kalau memang kita belum siap untuk segala resiko,alangkah lebih baik kita menghindari untuk mendekatinya karena godaan itu datang dari manapun,, tidak peduli dia orang awam atau bukan, tidak melihat waktu dan tempat dia berpijak

QS 7:16 “dan iblis menjawab : karena Engkau telah menghukum saya tersesat saya akan benar-benar, (menghalang-halangi) mereka dari jalanMu yang lurus,

QS 7:17 kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dakan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.
Memang kita bukanlah orang yang baik, tapi semoga kita termasuk orang- orang yang selalu berusaha untuk memperbaiki diri.


Thursday, October 22, 2015

Kita Lebih Rendah dari Hewan?

Kita Lebih Rendah dari Hewan?Suatu ketika saya mendapat foto di akun jejaring sosial yang memamerkan "keperkasan dia". Dia memamerkan hasil buruan berupa seekor monyet,kemudian digantung dan dia sendiri berdiri di samping hasil buruannya yang sudah tidak berdaya sambil menenteng senjata. Kemudian di gambar lain dia memamerkan daging disebuah mangkok yang masih berwarna merah,termasuk tengkorak monyet. Tidak sampai disitu dia unjuk kebolehan,dia juga pamer foto sedang memakan tengkorak monyet. Orang lain berkomentar dengan kata-kata yang kasar kalau dia tidak memiliki hati dan malu.Bahkan ada yang mengumpat " ban*s*t hatimu tidak seganteng wajahmu yang berani menganiaya monyet"

Jujur ketika saya melihat itu juga hanya terdiam.Saya berharap dia tidak benar kalau dialah yang membunuh monyet dan memakan daging monyet tersebut. Jujur dalam hati kecil saya menginginkan itu hanya sebuah daging sapi atau kerbau dan tengkorak yang dimakan itu bukan tengkorak monyet tapi hanya boneka yang menyerupai tengkorak monyet, dan dia hanya mencari sensasi dengan berakting seperti itu.

Kalau beneran bagaimana? 

Maksudnya memang dia yang membunuh,mencincang, memasak dan memakan daging monyet tersebut?  Saya hanya berdoa semoga itu adalah perbuatan terakhir yang dia lakukan kepada monyet lain ataupun binatang lain yang dilindungi. Dalam pikiran saya apakah sudah tidak ada lagi makanan halal yang tersedia di alam ini? Apakah sudah menipis stok daging halal yang ada dibumi ini? Dan apakah sudah hilang rasa malu dan rasa kemanusiaan terhadap mahluk Tuhan yang lain,sehingga dia sangat bangga dengan memamerkan foto tersebut.

Dalam islam yang merupakan agama paling toleran menskipun itu ke hewan sekalipun, ada beberapa etika yang harus di lakukan, diantaranya agar binatang yang disembelih halal dimakan, perlu diperhatikan syarat- syarat dan rukun – rukunnya.
  1. Rukun Penyembelihan Binatang

    Rukun menyembelih binatang sebagai berikut;
    • Ada orang yang menyembelih
    • Ada binatang yang disembelih
    • Ada alat untuk menyembelih
    • Menyebut nama Allah atau membaca basmalah sebelum menyembelih
       
  2. Syarat Penyembelihan Binatang

    Adapun Syarat- syarat menyembelih adalah, yaitu :
    • Penyembelih harus orang Islam
    • Binatang yang disembelih disyaratkan :
      • Disembelih dilehernya hingga putus urat lehernya. Secara medis bertujuan ketika pembuluh darah putus maka darah dari tubuh akan mengalir keluar sehingga kumab dan penyakit yang berada dalam tubuh hewan tersebut akan hilang. Oleh karena itu dalam islam melarang memakan hewan yang mati dengan cara dipukul kepalanya, disetrum atau dibakar.
      • Hewan yang akan disembelih masih hidup dan halal dimakan.
         
  3. Alat menyembelih harus tajam

    Semua benda tajam dapat digunakan untuk menyembelih, kecuali kuku, gigi dan segala macam tulang. Ini karena secara tegas rosulullah SAW melarangnya.
    Apabila rukun dan syarat untuk menyembelih telah terpenuhi maka binatang itu halal untuk di makan
    Ketika alat yang digunakan tajam bertujuan ketika menyembelih urat syaraf dan pembuluh darah langsung terputus. Sehingga meminimalkan penyiksaan dan menyakiti hewan.

"Sesuatu yang mengalirkan darah dan yang disembelih dengan menyebut nama Allah, makanlah olehmu, terkecuali gigi dan kuku ( sebagai alat penyembelih ) “. ( H.R. Bukhari-Muslim )

Semoga kelak tidak ada lagi yang memamerkan diri menganiaya hewan dan memakannya tanpa merasa berdosa apalagi ditambah dengan cara membuat sensasi biar terkenal. Karena segala perbuatan sekecil apapun akan mendapat imbalan hang adil kelak dipadang mahsyar. Bukankan pernah kita dengar cerita zamn Rosullullah yang mengisahkan tentang seorang pelacur yang masuk syurga karena bertaubat dan memberi minum untuk seekor anjing yang hampir mati. Jadi jangan sampai kelak di akhirat kita diperlakukan sama halnya ketika kita memperlakukan binatang secara tidak manusiawi di dunia.

Alangkah lebih baik kita menghindari hewan tersebut daripada takut menyakiti, karena hewan pun punya hak sama untuk hidup di dunia dan diperlakukan secara adil dengan mahluk lainnya.