Amandemen UUD menuntut sektor kesehatan mendapat minimal 5% APBN. Hal itu masih jauh dari Ideal, karena anggaran negara lain umumnya sudah 10% ke atas. Sementara di Indonesia anggaran kesehatan sudah puluhan tahun tidak pernah lebih besar dari 3%. Wajar bila Fasilitas dan Kualitas pelayanan di Indonesia sangat buruk bila dibandingkan negara tetangga. Karena hal tersebut selama ini dokterlah yang menjadi kambing hitam.
Seorang dokter waktu belajarnya tidak sebentar, mudah, ataupun murah. Dokter harus memiliki yg nurani luhur dan dedikasi besar meluangkan waktu yang tidak sedikit untuk melayani masyarakat. Kami beserta tenaga kesehatan lainnya harus siap dengan risiko terpapar beragam penyakit demi membantu sesama. Wajarlah bila di banyak negara dokter & tenaga kesehatan mendapat penghargaan yang tinggi melalui gaji yang menjamin kesejahteraan keluarga, sebanding dengan anggota parlemen yang terhormat.
Namun di Indonesia, dengan anggaran kesehatan yang amat rendah, gaji dokter bervariasi antara 2-5 juta/bulan. Gaji tenaga kesehatan lainnya bahkan lebih kecil lagi. Untuk bisa sejahtera dokter harus bekerja keras praktek pagi-siang-malam. Walau harus bekerja dalam kondisi yg sangat tidak ideal, dokter & tenaga kesehatan lainnya selama ini tidak pernah protes. Namun saat ini Profesi kami dicemooh berbagai kalangan dan dihargai lebih rendah dari profesi supir bus, bahkan anggota DPR (Ribka Tjiptaning) mengatakan dokter lebih rendah dari Polantas. Seakan semua masalah tersebut tidak diakibatkan oleh sistem kesehatan yang sangat miskin anggaran & program. Anggota DPR yg menghina profesi kami, sering bolos & tidur saat rapat membawa pulang uang setidaknya 1M/tahun.
Ternyataa benar dugaan saya...setelah survey (maklum dari kampung ke ibukota merantau) perasaan, dimana-mana memang masalah kesejahteraan untuk sejawat ini kurang diperhatikan.
Melihat teman yang lulus kemudian diterima menjadi PTT (dokter,bidan,perawat) yang tugasnya 24jam dan paginya dipuskesmas disalah satu desa dikab.bojonegoro jawa timur, disana sinyal aja susah, bahkan desa sebelah kabarnya kalau hujan listrik sering padam gaji kurang lebih 500rb/bulan alhamdulillah, kurang kalau buat makan dan kebutuhan lain-lain.
Akhirnya teman berpindah kejogjakarta (dan ternyataa hampir sama) bahkan beberapa RS swasta mengharuskan penahanan ijazah padahal cuman dengan gaji 450rb (naik berkala per 3bulan, 450, 550, 750-mentok) nanti kalau ada jasa tindakan baru dikasih (gak tau gimana ngitungnya).Kemudian ada yang pindah kemalang dan surabaya pun sama gan disalah satu RS milik angkatan laut negara kita, yang dengan UMR 2.2 kita hanya diupah 750rb/month (buat kos sama makan berapa minggu ini).
Tapi tetap saja saya miris, karena setelah sekian lama pengamatan saya dilapangan (ceileh) memang masih mending dikota besar untuk salarynya (kalau sama2 kerja dan sama2 capek dg konsekuensi jauh dari rumah dan gak tau kapan bisa pulang)
mirisnya kenapa.
Bagaimanakah dengan organisasi profesi kita? Saya tidak akan membuat jelek organisasi profesi kita,hanya ingin menanyakan bagaimanakah proses pembuatan kartu PPNI, dan STR kita? Apakah memuaskan. Alhamdulillah semoga memuaskan.Ternyata setelah dapat info dari teman dijakarta berniat aktif juga di PPNI jakarta.Saya tidak mau menjelekkan profesi.Saya ingin bertanya kepada teman sejawat bagaimanakah proses pembuatan STR dan kartu PPNI apakah sudah memuaskan. Saya hanya tersenyum dengan komentar salah satu teman di medsos mengenai stigma organisasi profesi yang berkomentar mengenai organisasi profesi, yang kurang mengenakkan. tanpa bermaksud apa-apa dg keadaan seperti itu, secara tidak langsung nantinya, generasi penerus kita pun akan begini (dan seterusnya), lantas apa yg bisa diharapkan dari sebuah wadah profesi kita ? apa cuma bikin "pengesahan" sertifikat skp aja ? (yg dibeberapa tempat malah menjadi ajang bisnis para letingginya).
Profesi kesehatan terutama perawat memegang peranan penting karena kitalah yang selalu menjaga pasien 24 jam. Namun sebagai profesi yang bersinggungan dengan penyakit, kita jugalah yang memiliki peranan besar untuk terpapar penyakit. Pernahkan teman-teman mendengar rekan sejawat meninggal karena tertular penyakit? Ataupun cacat permanen karena terpapar infeksi dari pasien.
Bekerja memang harus ikhlas tetapi boleh kan kita berikhtiar dengan meminta perlindungan diri yang bagus sesuai anjuran kesehatan. Semoga seiring ketrampilan perawat yang meningkat, kita mampu berdaya saing dengan profesi kesehatan yang lain. Semoga dengan meningkatkan penelitian dan pendidikan, kita memiliki wadah yang bisa lebih mengayomi para perawat yang terpinggirkan. Semoga dengan berkembangnya atittude dan performa yang baik,kita mampu merawat klien dengan heart,hand, and head.
Semoga...
Dan semoga ada banyak harapan dan energi positif yang bisa kita pupuk dan tularkan kepada yang lain.
NB: insert gambar adalah salah satu "perayaan kecil" ulang tahun dan ucapan doa kepada salah satu pasien yang terbaring koma disalah satu sudut rumah sakit.
No comments:
Post a Comment